Senin, 03 Desember 2012

Walang Si Pelajar Hola - holo

Aku Walang seorang pelajar muda yang mempunyai kebiasaan loncat sana – loncat sini jika ada sesuatu yang bagus oleh sebab itu aku disebut walang. Aku palajar yang baru masuk ke jenjang Sekolah Menengah Kejuruan. Sekolah itu disebut SMK Takhassus Al-Qur’an, sekolahan yang  bertitle Islamic di sebuah kota kecil yang berada di tengah provinsi Jawa Tengah. Kota kecil itu bernama Wonosobo, di Wonosobo cuaca sangat dingin pas banget kalau walang dann teman – temanya sering mencari kehangatan. Kehangatan apa yang mereka cari???. Yups tepat banget kehangatan CINTA. Cinta dikalangan anak pelajar sudah taka sing apalagi untuk pelajar SMA/SMK yang sudah menjadi cirri khass. Anak Sma/smk dan setaranya jika kagak mempunyai pasangan hidup atau living couple itu cupu.
Pada awal masuk SMK walang berada di tengah a group activity yang padat yang dituntut untuk mengikuti. Activiy apa itu biasa lah, untuk anak yang baru masuk ke sekolah pasti dapat sarapan wajib yaitu MOS (Masa Orientasi Siswa) ya gak???. Ya pasti jawabanmu. MOS kegiatan yang dibenci oleh para pelajar yang hola – holo seperti walang dan teman – temannya. Hola – holo seperti walang itu yang hola – holo istilah jawanya mrono mrene gampang kegowo arus itulah maka disebut pelajar hola – holo yang begitu jelas mempunyai kisah yang romantic, lucu , dan haru. Terbukti sebelum melakukan MOS kami mendapatkan bebrapa tugas dari kakak angkatan untuk membawa bekal buat acara MOS tersebut. Aku atau Walang, Isman, Avan, Izun, Jaya gerombolan pertamanya walang di SMK. Gerombolan yang dibentuk karena satu desa. Pertama kita kumpul karena mengerjakan topi MOS memakai kertas karton berbentuk kerucut yang biasa dipakai nenek sihir. Kumpul di rumah Sijay membuat topi tersebut jam 4 sore, waktu yang hangat buat mengerjakan seuatu yang berbentuk barang bersama – sama. Waktu itu juga hujan melengkapi, tak ada hujan Wonosobo tak lengkap.. Hujan yang disertai petir yang keras menambahkan kehangatan mengerjakan topi kerucut itu. Selesai jam setengah 6 hujan belum juga berhenti, kami bingung mau ngapaen lagi? Kalau tidak bercanda pasti ngantuk. Saat itu kebetulan rumahnya Sijay itu kos –kosan cewek. Dengar kos – kosan cewek pasti langsung berfikir negative ya? Ahah. Satu penghuni kos tersebut namanya Hida namun dia sok – sok imut dikit waktu kenalan. Avan anak yang gak punya malu dikit pun. Saat Hida keluar kamar menuju tempat kami mengerjakan topi yang kebetulan juga Hida anak MOS yang bareng sama kita. Avan tanpa sadar kelihanya mulai berdiri menekati Hida sigadis imut asal Ngawi, Tangan Avan mulai menuju kedepan dan terbuka kearah tubuh Hida. Hmmm mau ngapain itu? Ya tentunya mau kenalan. Avan : ‘Avan anaknya pak Suprat dari kamplingan, namam kamu siapa?’. Hida : ‘Hmm, Namaku Hedent?’ jawab Hida dengan PD mengubah HIda menjadi Hedent seolah mau seperti pembalap moto gp Niki Hedent. Mereka berdua saling mengenal aku pun juga kenal sama dia.
Pagi mulai mentari menyinari dan burung – burung mulai berkicau, daun – daun basah karena embun pagi. Akupun bangun mulai bergegas berangkat MOS. Sebelum berangkat aku berkumpul bareng teman – teman di depan rumah Sijay yang tempatnya di dekat rumahku. Disana sudah berkumpul teman – teman. Sudah ada Izun dan Isman. Izun Isman nama yang serasi? Bener banget serasi karena mereka semasa hidupnya hampir barengan terus keman – keman bareng. Selang waktu berapa menit dan jam menunjukan pukul 6.45 kami mulai jalan menuju sekolahan. Sekolahan itu berjarak dari tempat siJay sekitar 1 kilo kuarng lebih. Sesampai di depan pintu gerbang SMK ada satu orang yang kami harap bias diajak kompromi yaitu SATPAM SMK. Dengar nama Satpam pasti kalau untuk kawanan kelas SMA/SMA sangat risi. Kenapa? Satpam adalah musuh level para pelajar.
Hari pertama MOS tanpa basa – basi kaka angkatan lagsung mengojlok kami, hingga tiap hari tak lupa dengan gojlokan – gojlokan sampai hari terakhir. Hari terakhir MOS aku tealh muncul jiwa keberanian ku untuk kenal yang namannya cewek. SMP dulu aku tak kenal yang namanya cewek karena aku sekolah di SMP Takhassus yang kelasnya antara kelas cewek dan cowok di pisah. Itu sebab ku gak kenal cewek, dan pada akhirnya kesempatan MOS tak dilewatkan yang pas pada waktu itu sedang sesi makan - makan. Saat itu aku kenalan sama cewek, Aku: ‘he? Kenalan donk? Aku ihsan… kamu siapa namanya?’. Jawab dia : ‘hmmm aku tau kok, kamu alumni SMP Takhassus yang anaknya guru Matematika kan?’ Jawab dia. Aku langsung mengkerut muka ku, karena aku ngak tau dia tapi dia tau aku, kembali ku bertanya ‘ Kok tau?’. Dia menjawab ‘Aku juga alumni SMP Takhassus sama denganmu, Nama ku Elna. Sesi tersebut selesai dilanjutkan kegiatan – kegiatan yang sifatnya mengakrabkan tapi ya digojlok. Hmmm hari – hari itu tanpa telat yang namannya gojlok, gojlok dan gojlok. Tapi menurutku gak papa, karena ku yakin aku akan menemukan yang namanya CINTA.
Sesi makan – makan terakhir sebelum penutupan MOS di mulai. Kembali lagi aku lose face dengan seoranng cewek yang alumni. Aku makan bersampingan dengan cewek tersebut. Aku kenalan lagi, Aku : ‘Hey mbak mau pindang’, aku seolah – olah SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) tapi kembali lagi sama dengan kisah kenalan sama Elna. Dia menjawab : ‘Oh ya,,, Aku udah ada kok’, jawab dia dengan muka yang lembut. Aku mulai bertanya lagi, ‘By The Way, Nama kamu siapa?’, dia menjawab dengan tertawa ‘Aku Ismi, kamu Ihsan kan anaknya guru matematika SMP Takhassus ya g?’. Aku bingung sambil bertanya lagi ‘Kok Tau???’, dia hanya menjawab ya tau aku kan alumni juga sama seperti kamu.
Sesi makan – makan selesai MOS juga selesai aku kembali berkumpul bareng teman – teman grombolan seperti biasa untuk melihat pengumumman pembagian kelas. Hasil pengumumman tersebut menuliskan Aku dan Isman satu kelas tepatnya di kelas X RPL 1. Kelas X RPL 1 berisikan cowok cewek yang jumlahnya aku lupa. Esst pada saat pertama masuk kelas aku tidak sengaja satu kelas bersama Ismi yang kenalan dia udah tau dulu namaku saat sesi makan – makan di acra MOS. Dan juga Ismi menjadi satu grup sama aku, Grup apa itu grup yang gak jelas. Biasakan awal – awal SMK kelas satu masi imut – imut dan adaptasi sama sekolahan. Jadi terbentuklah grup barat dan grup timur. Grup barat merupakan grup yang berada disebalah barat yang anggotanya para anak – anak yang duduk disebalah barat. Grup Timur juga grup yang berada disebalah timur yang anggotanya para anak – anak yang duduk disebelah timur.
Selang waktu beberapa bulan kelas mulai agak kompak tapi kompak apa kompak membolos pada jam pelajaran ada gurunya. Pada saat itu aku, Ismi, Azizah, Azkia, Isman, Cusmi, Fitri, dan Sauki, memprofokatori pada saat jam mata pelajaran Kimia yang diampu Bu Suhartatik tepatnya jam terakhir hari kamis aku masih ingat. Kamipun langsung cabut lewat belakang sekolah yang kebetulan belum ada temboknya sekolahannya dan Satpam baru alias Pak Supri pada saat itu berada di depan sekolahan, yang memberikan peluang besar untuk kita kabur bersama. Kamipun berhasil kabur dari sekolahan, tapi tapi dan tapi pertemuan berikutnya kami satu kelas mendapatkan hukuman dari Bu Suhartatik. Hukumannya apa??? Aku lupa yang pasti sebuah hukuman, hehehe.
Bercanda hal biasa bagi kalangan pelajar pada saat jam pelajaran dimulai. Pada saat itu aku dan Sauki duduk satu meja dan Isman duduk didepanku bersama Azkia. Wah cocok banget dan mudah untuk melakukan kegiatan bercanda – bercanda. Saat itu kami mendapatkan ilham pikiran untuk ngak terlalu monoton dengan nama asli kita. Kamipun berunding saat pelajaran kosong, berundingnya adalah berunding nama samaran. Isman diganti Om Gig karena dia seperti OM om, Sauki diganti menjadi Ugruk karena apa dia suka nontot video yang ugruk ugruk. Apasih ugruk itu? Cari aja diinternet. Azkia dipanggil gendut karena dia emang berbadan gendut. Aku Walang tentunya kenapa aku disebut walang? Karena walang adalah binatang yang suka loncat – loncat mencari makanan sama denganku. Setelah kami berunding kamipun laper, karena si ihsan jelasin kenapa namanya walang karena walang loncat – loncat mencari makanan. Gara – gara dengar kata makanan Azkia langsung ingat dengan simbok. Simbok adalah seorang yang familiar untuk kalangan siswa cowok di SMK ku, karena simbok adalah penjaga kantin yang baik hati.        Aku dan Ugruk ke kantin tanpa memperhatikan jam pelajaran apa sekarang. Waktu itu setelah pelajaran Bahasa Arab yang kosong yang tadi dibuat berunding nama samaran, kami keblabasen sampai lupa kalau jam Bahasa Arab sudah habis. Kami enak – enakan dikantin sambil makan tempe kemul dengan nasi sayur simbok sambil mengodain simbok, tak tau kelas Kewirausahaan gurunya sudah masuk. Bu Musriah namanya beliau guru yang mengajar mata pelajaran Kewirausahaan kami. Kami dengan terburu – buru lari menuju kelas. Buka pintu Aku dan Ugruk di tegur habis – habisan karena telat masuk kelas kami dikasih hukuman, hukuman yang sampai sekarang aku ngak lupa yaitu suruh membuat surat permohonan maaf dengan tanda tangan wali kelas dan kalu tidak membuat oaling lambat pertemuan minggu depan kimi berdua tidak boleh mengikuti mata pelajaran tersebut selama satu semester. Aku dan Ugruk membuat setelah pelajaran tersebut selesai. Setelah aku dan ugruk membuat surat itu aku langsung mencari yang namanya wali kelas. Wali kelasku merupakan guru baru yang masih muda dan cantik tentunya namanya siapa lagi kalau bukan Bu Guntari. Bu Guntari mengampu pelajaran Matematika, kebayang kan Matematika sebagian kalangan mengolongkan Matematika adalah mata pelajaran yang sulit tidak ketinggalan juga aku dan ugruk. Kutemukan Bu Guntari yang sedang mengajar kelas X RPL 2 tanpa basa – basi aku langsung panggil beliau untuk meminta tanda tangan. Tapi tak semudah itu mendapatkan tanda tangan ujar Bu Guntari. Kami harus menyelesaikan soal Matematika sebanyak 5 soal dan harus dikumpulkan saat itu juga. Aku dan ugruk salah satu pelajar yang hola – holo apalagi dengan mata pelajaran ini. Tapi dengan kelemahan dapat menjadikan kekuatan dan pada akhirnya bisa mendapatkan tanda tangan tanpa harus mengerjakan soal tersebut. Kenapa? Karena selain kita mempunyai banyak kelemahan tapi kita juga mempunyai kelebihan yang terpendam. Yaitu merayu guru, dengan rayuan gombalku dan ugruk kita dapat tanda tangan dari bu Guntari dan kami masih bisa mengikuti pelajaran tersebut.
Pelajaran Kejuruan yaitu pelajaran Dasar – Dasar Pemrograman yang diampu oleh Bapak Nur Faizin. Pelajaran yang membosankan kalau dikelas atau bisa disebut juga materi. Karena aku suka dengan yang namanya praktek. Praktek itu enak gak usah pake materi karena materi kelamaan langsung praktek aja ujarku. Ibaratnya kita mau nembak burung yang ada dipohon, kita sudah lihat burung itu tapi kita harus debat dengan temannya tentang materi gimana cara nembak yang benar, burung itu pasti akan lari. Sama juga dengan materi pelajaran kalau kebanyakan materi kita akan puyeng dan kita akan bosen juga yang mengakibatkan ilmu hanya materi dan praktek itu kabur karena batasan waktu yang diberikan oleh kurikulum. Di Laboraturium kami pun praktek tapi praktek yang enak karena Pak Faidzin ada acara ngak tau tapi acara apa. Di Lab yang ruangannya masih sempit dan beralaskan karpet kamipun juga sedang bosan. Kamipun kembali point utama pelajar saat dikelas yaitu bercanda, kami bercanda sambil berkerubun melingkar sampai waktu habis. Waktu jam tersebut 4 jam dan gurunya juga gak masuk kelas dan tidak juga memberikan tugas. Kami bercanda sampai larut satu – persatu anak tertidur di lab sampai semua juga tidur. Lagi enak – enaknya dunia mimpi terputar dibayangan datanglah holikopter yang berpilot Pak Faizin, seperti di film-film kalau sedang adegan mimpi dan mau terbangun pasti di mimpi itu ada bayangan orang yang mau membangunkan tidurnya dengan costum yang pas dengan mimpi tersebut. Pak Fizin membangunkan aku dan teman – teman dengan wajah merahnya. Beliau marah dan tidak mau mengabsen kita. Tapi guru marah bagi kami kalangan pelajar muda yang sedang labil hal biasa tidak membuat goyah tetap aja santai. Tapi pertemuan berikutnya Pak Faidzin sudah tidak marah lagi, tapi dia memberikan materi lagi untuk menghadapi ujian semester. Sebelum ujian semester kami terkait sebuah kegiatan ekstrakulikuler di sekolahan. Ekstrakulikuler Palang Merah Remaja di ektra itu kami mendapatkan kegiatan diklat yang diadakan oleh kakak kelas. Namun kegiatan itu dilaksanakan setelah ujian semester.
Ujian semester hari pertama dilaksanakan, aku duduk no dua dari belakang sebelah pojok kiri. Ruang ujian terdapat empat deret ke samping dan lima deret kebelakang. Pad saat ujian berlangsung duduk antara peserta satu – satu. Ya satu – satu adalah hal biasa dalam ujian tapi walaupun satu – satu bagi si pelajar hola – holo kayak aku dan teman – teman bukan terasa satu – satu tapi kita masih merasakan duduk bersama. Karena sepanjang perjalanan ujian hari demi hari dilewati kami kagak terlalu tegang dan serius mengerjakan soal – soal ujian yang. Mungkin karena jiwa – jiwa ku adalah jiwa hola – holo yang santai, aku dan teman – teman bisa santai tapi bekerja sama. Bekerja sama istilah dalam pelajar dalam mengerjakan soal ujian. Karena pelajar menurutku mempunyai prinsip persahabatan pelajar bagiku yaitu mlebu bareng metu bareng (masuk batreng, keluar bareng). Itu sebuah prinsip dari awal SMK yang akan dibawakan sampai aku lulus bersama teman – teman lainnya. Terbukti yang aku ingat aku duduk depan Ismi, pada saat itu sedang pelajaran PKNs yang diawasi oleh Bu Leli. Bu Leli sesosok guru yang muda pada saat itu dia cantik juga sih… tapi menurut teman – teman ya gitu deh biasa Galak, hahaha. Terbukti saat Ismi sedang melakukan ritual yang biasa dilakukan saat ujian. Yaitu ritual buka catatan kecil yang dibuat sebelum berangkat, yang isinya komplit materi – materi sekomplit jamu komplit bahkan mungkin komplit lagi, karena hanya Ismi, Bu Leli dan Tuhan yang tau. Ya Bu Leli tau karena beliau melihat Ismi sang wanita manis dari bukit Dieng mencontek dan ketahuan oleh mata Bu Leli yang setajam elang. Ismi pun terkejut saat itu dan muka menjadi seperti ceret yang terbakar dan seperti warna umum partai PDI. Keluar ruang ujian biasa kita kumpul – kumpul dengan bercanda lagi, namun Ismi tidak bisa bercanda melainkan beda topic sendiri dia yang ada curhat tentang ritual yang gagal, karena satu factor yang kurang yaitu waspada. Waspada kunci besar bagi pelajar untuk mencontek. Mencontek merupakan ritual yang baik atau tidak baik? Jawabannya tentunya baik bagi sekalangan pelajar yang hola-holo tak tau sepenting apa ilmu itu. Ilmu sepenting mata kita, mata adalah alat indera melihat namun kalau kita tak punya mata kita tak bisa melihat kedepan, kebelakang, dan kemana saja yang sesuai kita inginkan. Tapi jika kita mempunyai mata kita akan bisa melihat barang yang kecil besar pandangan didepanm, samping kanan kiri, atas, bawah, dan belakang. Artinya ilmu itu bisa digunakan sebagai alat untuk melihat bahkan juga untuk mengetahui arah kemana saja asalkan kita mempunyai ilmu banyak, kita akan bisa melihat masa depan kita, masa lalu kita, pengalaman kita. Samping kanan kiri jika kita menyeberang jalan. Kenapa aku bilang menyeberang jalan, karena menyeberang jalan juga menggunakan ilmu.
Ketika teman sedang dapat masalah seperti Ismi yang harus menghadapi tilang oleh Bu Leli yang harus mengurus ke kantor. Kami menyuport Ismi supaya semangat dan bertanggung jawab. Ismipun akhirnya bisa tersenyum bahagia setelah kami mensuport, dengan langkah kaki dia menuju pintu masalah dia menyelesaikan dengan tanggungjawab dan diapun meneyelesaikan masalah tersebut dengan tenang. Karena kami pelajar hola – holo yang menghadapi masalah dengan santai. Hingga pada akhirnya ujian selesai, dilanjutkan kegiatan – kegiatan dari anak – anak OSIS.
Aku, Isman, Sauki juga tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (Osis). Osis terdengar dari siswa lain adalah anak yang sok – sokan jadi pemimpin, sebutan dari siswa – siswa lain. Tapui bagi kami bertiga Walangm Om Gig, dan Ugruk biasa saja. Pada kegiatan classmeatting namanya yang kegiatan tersebut meliputi lomba – lomba yang menurutku tidak bermutu. Kenapa ku bilang tidak bermutu karena ya aku ngak bisa mengikuti semua kegiatan itu, hahaha. Namun aku juga berpartisipasi menjadi panitia. Panitia yang santai yang cuma bekerja minta sneck, memberikan usulan dan minum. Itu kenapa sebab aku ikut Osis. Kembali lagi ke cerita kegiatan tersebut. Kelasku main dalam lomba voli cewek melawan X AK 1. X AK 1 kebanyakan berpenghuni cewek – cewek sedangkan kebalikannya kelasku ceweknya hanya seberapa butir saja. Namun tak masalah bagi kami cewek dikit supporter dikit karena anak – anak kelas ku pada pulang, sebab mengangap kegiatan tersebut kegiatan yang kagak penting, Cuma bisa membuang – buang waktu tidur di pondok, ujar para siswa yang tinggal di pondok. Telah jelas akar masalah bagi kelas ku dalam perlombaan tersebut hingga kelas ku kalah. Ya itu sebabnya karena anak – anaknya yang hola – holo akan kegiatan yang ngak penting. Mungkin menurut mereka kegiatan yang penting yaitu kegiatan lomba tidur. Karena di kelas juga sering pada tidur. Anak pondok mempunyai prinsip kaliya, pirinsip “Tidur Adalah Ibadah” terbukti tiap hari pasti ada anak pondok yang tidur di kelas. Tak apa – apa karena anak pondok juga memberikan inspirasi bagiku.
 Ujian selesai, kegiatan classmeatting selesai, mulailah guru – guru pada sibuk mempersiapkan pembagian nilai rapor. Hari itu pembagian rapor dimulai, aku dan grombolanku menggambil rapor yang hasilnya? Ya lumayan memuaskan. Berempat kami dapat nilai yang selisih nilanya sebelas dua belas lah ya. Tapi bagi kami bertiga nilai itu tidak penting banget yang penting prinsip pelajar mlebu bareng metu ya bareng. Hari yang dinanti – nantikan setelah rapor dibagi yaitu libur. Libur suatu kata yang seperti waow baget bagi kaum pelajar, karena libur itu bebas dengan yang namanya tulisan – tulisan yang membuat otak pusing, bebas juga dari teguran, hukuman dari guru. Setelah mendapatkan rapor aku dan teman – teman mau pulang dan rencananya mau kumpul di rumahnya Om Gig. Tetapi di halau oleh suara yang merdu dari anak kakak kelas yang mengurusi diklat PMR. Karena Om Gig suka kegiatan itu dan Ugruk juga suka akupun ikut mereka berdua. Kenapa aku ikut, ya sesuai dengan namanya walang yang suka loncat – loncat mengikuti temannya. Kumpul membahas diklat PMR aku duduk dibelakang cewek X Akuntansi 1 dia sedang berdua sama temannya yang menurutku mereka berdua saat itu mirip. Terdiam aku hanya bisa memandang dia, dan berharap di kegiatan ini aku bisa kenal dia. Lagi enak – enaknya memandang, kakak kelas datang langsung membuka kumpulan atau bahasa rebelnya musyawarah tersebut. Bulan November pada saat itu tanggalnya aku lupa diadakan kegiatan diklat yang dilaksanakan di tea plantation Tambi.
Selesai musyawarah pembahasan diklat tersebut kami bertiga langsung berkumpul di rumah Om Gig. Disitu kami ngobrol – ngobrol seolah – olah kayak sedang membahas Negara tapi apa kenyataannya yang dibahas. Apa lagi kalu bukan CINTA. Ya kayak cewek bahasnya begituan, sebab Ugruk sedang terobsesi cintanya dengan Novi anak SMA 1 Mjotengah saat itu. Curhat – curhat dan curhat sampai matahari tenggelam. Kami pun pulang menuju alam kami masing – masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar